Selasa, 23 Desember 2008

Q tak mengira

Di bawah matahari sore. Kami,sembilan siswa duduk melingkar dengan seorang Bapak. Bapak yang menjadi guru kami. Angin seolah enggan untuk menari. Karna dia tahu, sebagian dari kami tidak dapat tersenyum dan tak mudah menyusun kembali.

Di antara sembilan siswa itu, ada dua di antaranya yang merasa paling terpukul. Mereka adalah aku dan temanku sekelas juga satu organisasi. Hawa dingin seolah tak kuat mendinginkan kemarahan yang sudah terlanjur muncul di dalam sesaknya hatiku. Aku berharap ini semua akan segera berakhir dan pengkhianat itu akan mengakui apa yang sebenarnya. Ah,itu tak mungkin!

Kami berdua duduk di antara mereka hanya bisa menunduk dengan menahan hati yang masih dongkol karna pengkhianat itu. Pengkhianat yang tak tau malu!

Aku mencoba bersabar. Berdoa smoga ada angin kencang menerpaku seketika ke ujung dunia. Biarlah, untuk sementara ini aku tak mau melihat sekolahku. Aku benar-benar muak. Memangnya dia siapa? Aku tak mengira dia akan mengkhianati kami berdua.

"Duuh" Keluhnya seolah bernafaspun sulitx bagai kau ingin mengangkat gunung. Aku menoleh mendapati wajahnya yang smakin pucat lantaran sang Guru tak berusaha melihat siapa sebenarnya yang perlu disalahkan. Aku pikir tidak ada yang perlu disalahkan,tapi yang perlu diperbaiki. Aku kira dia pemimpin sejati, tapi "cih". Sekarang,aku sudah muak untuk sekedar memujinya.

Meski ini bukan masalah kekasih atau kehilangan wadah berteduh atau kasus lainnya seperti tlah berani memukul teman. Tapi, betapa sakitnya hatiku. Padahal aku adalah orang lama. Haah..Dengan mudahnya dia tlah berhasil membuangku. Ya, aku akui aku di sini tak berarti apa-apa sekarang,tapi setidaknya hormatilah aku.

Kupikir dulu semua terasa mudah dan lancar. Tak kukira hal mirip kasus ini akan seolah menjadi kasus. Padahal bukan! Kami hanya akan mengadakan rencana acara untuk sekolah. Tapi,pengkhianat itu tlah melukai sedikit lututku. Sehingga, kini aku sedikit ternodai. Dan yang mengetahuinya hanya aku,temanku dan pengkhianat itu.

Dulu aku mengira sosoknya adalah pemimpin sejati dan sahabat kami. Tapi, ternyata dia hanya pengkhianat yang tengah hadir di antara kami. Orang-orang yang hanya bisa disalah-salahkan oleh Guru, padahal kami bukan seperti itu. Tapi, apalah daya kami-yang opininya tak slamanya ada ditangan yang benar.

Aku tak menyalahkan Guruku, karna aku yakin benar beliau tak tahu-menahu yang sebenarnya. Kunci terletak di tangan sang pengkhianat, hanya dia yang mampu membukanya. Karna kami hanya terkurung di sini, ini semua hasil dia tlah berhasil mengunci kami. Itu dia lakukan dengan mudah, yakni karna kami masuk sendiri dalam perangkapnya. Mungkin, teman yang mrasa dikhianati juga memiliki pikiran sama denganku.

Ah,dy pemimpin sekaligus pengkhianat bagi kami.

Jumat, 05 Desember 2008

Wanita

Wanita cantik
Melukis kekuatan lewata masalahnya
Tersenyum saat tertekan
Tertawa di saat hati sedang menangis
Memberkati di saat terhina
Mempesona karena memaafkan

Wanita cantik
Mengasihi tanpa pamrih
Bertambah kuat dalam doa dan pengharapan

=>Einid Shandy<=

Senin, 10 November 2008

Sebuah perkenalan

Alow kawan-kawanku?!

Nie blog di buat untuk nampung tulisan-tulisan mulai dari yang gak jelas ampe' yang sejelas-jelasnya. Hehe... Nach, ya kan? Bener kan? Bener gak? Ya iyalah, kan tuch karya-karya tulis menulis sangatlah layak untuk dihormatin.

Hmm...meskipun tulisan-tulisan itu gak ada yang bisa bicara, tapi mereka tetap ada untuk masa depan.

So, ya di sinilah tulisan-tulisan itu ada!!!
Yach...emang sich paling banyak nampung tulisan fiksi. tapi, emang kok itu utamanya.
Hehehe...

Ya dah met menjelajahi blogku yang aneh bin ajaib!!
Huawkawkaw...