Malam minggu ini seperti biasa. Tak ada perbedaan kegiatan Inid si cewek imut yang mempunyai rambut seperti film kartun “Dora the Explorer” itu tetap memandang layar notebooknya dengan jari-jarinya yang sudah lama terlatih memencet-mencet tombol keyboard dengan keahliannya mengetik sepuluh jari, dia harusnya bangga karena teman-teman SMK-nya selalu mengeluh apabila harus belajar sepuluh jari. Asal kalian tahu mengetik sepuluh jari itu juga ada gamenya. Asyik menurut Inid, karena dapat membuat para siswa jadi rajin belajar. Tetapi Inid salah duga, mereka malah asyik main game yang lainnya. Huh…emang sulit membangun siswa yang rajin-rajin dan dapat menyaingi Negara lain se-Asia. Bagaimana para pelajar Indonesia bisa maju kalau disuruh belajar mengetik sepuluh jari tanpa pikiran dan tidak mengeluarkan banyak tenaga saja, banyak alasan saja.
Kembali ke ruang yang selalu jadi tempat nongkrong asyik sedunia bagi Inid, apalagi itu buatannya sendiri. Kau pikir kau akan betah tinggal di ruang hasil dekorasi Inid? Oke…kalau kau ingin mencobanya, coba kugambarkan.
Ruang yang sebenarnya sudah lama tidak digunakan itu didekorasi dengan uniknya oleh Inid. Kecil tapi nyaman, itulah yang selalu disenandungkannya bila ada yang bertamu. Maka merekapun balik bersenandung pada Inid “Suguhan untuk tamunya apa dan mana?” Dasar makanan-minuman secuil saja tidak ada yang lupa. Memang temen-temen Inid rada rakus dalam bidang yang menyangkutkan makanan dan minuman. Kalau urusan sekolah? Mungkin, kau sudah dapat menebaknya. Mereka sama sekali tidak suka dan selalu mengatakan sudah kenyang terlebih dulu sebelum mencoba menggeluti pelajaran demi pelajaran. Apalagi memusingkan kepala dengan rumus-rumus fisika, kimia dan matematika, tentu mereka akan angkat tangan. Melihat saja muaknya minta ampun.
Kembali ke dalam ruang hasil dekorasi Inid. Ruang itu di dinding-dindingnya menempel rak-rak yang sebagian besarnya terisi buku-buku mulai dari yang tipis hingga yang paling tebal ada di sana, mulai dari comic sampe novel juga buku-buku pelajaran tertata rapi di sana. Sebagian kecil lainnya berisi pernak-pernik lucu yang kalau dilihat-lihat persis rak-rak di sepanjang toko Fun Girl’s. Toko yang menjual segala macam pernak-pernik milik cewek mulai dari yang paling kecil hingga yang paling besar. Tak ada kursi di ruang itu, hanya ada meja berukuran 1 x 1 meter dengan kaki-kaki mejanya yang pendek. Jadi, kita lebih nyaman duduk dilantai ketimbang duduk dikursi karena meja itu sangatlah pendek. Maka dari itu Inid mempergunakan karpet lembut berwarna biru laut dengan motif ikan-ikan, bisa disebut itu lautnya. Jadi, kenyataan sepupu-sepupu kecil Inid selalu bermain jadi nakhoda-nakhoda. Dengan begitu Inid terpaksa menjatuhkan semua barangnya yang semula ada di atas meja jadi di bawah, selama itu pula Inid harus mengawasi, takut kalau ada yang di rusak oleh adik-adiknya.
Tak hanya itu, boneka-boneka besar pun ikut menghiasi dan empat bantal dengan warna yang berbeda sangat pas untuk dipakai tidur-tiduran sambil baca salah satu comic. Oh yeah…bila kau merasa gerah, tak perlu khawatir. Di pojokan dekat pintu ada kipas angin kecil berwarna biru. Tentunya ada jam dinding yang ikut memeriahkan di antara pigora-pigora yang isinya foto-foto Inid juga poster-poster kesayangan Inid. Hanya saja kau akan kasihan dengan jam dinding berwarna pink cerah itu, jam itu seolah tak pernah dianggap sebagai penambah ruangan. Lihat saja, bahkan Inid sudah lupa. Fakta mengatakan, tiap kali Inid harus makan atau solat Orang Tuanyalah yang malah harus menggedor-gedor pintu untuk mengingatkan Inid bahwa sudah waktunya untuk keluar dari kandangnya. Kadang Inid mengeluh apabila sudah tiba saatnya suara bising itu merusak segala idenya yang muncul di dalam otak. Tapi, sudah tidak bisa dipungkiri. Inid harus mematuhi, apabila tidak wah…bakal akan ada tembakan-tembakan seru.
Tok…tok…tok…
“Dora sayang!!!” Teriak seorang cowok cakep dari seantero sekolahan nyelonong masuk sebelum dipersilahkan oleh pemilik kandang.
“Sayang-sayang. Stress!!” Sungut Inid merasa kencannya dengan tulisannya dimonitor terganggu oleh kedatangan cowok itu.
Wajah cowok itu nongol dari balik pintu dan langsung menjatuhkan diri di dekat Inid yang masih meneruskan kencannya. Cowok itu mengambil salah satu comic kesayangannya, Naruto.
Eits…jangan salah kira. Cowok itu bukan saudara atau apapun dalam sejarah keluarga Inid. Jadi, teman? Jauh dari itu, bukan juga sobat. Tapi, dia cowok Inid. Hah…jangan bengong! Emang kenyataan kok. Siapa bilang Inid JOMBLO MANIA.
Mereka sudah jadian selama dua bulan yang lalu. Yuris, sangat bangga akhirnya bisa jadia sama cewek yang selama ini ditaksirnya karena dianggapnya lebih hebat dari club modeling di sekolah mereka. Yaaah…meskipun jadinya akan seperti saat ini. Kalau Inid__merasa belum bangga sebelum dapat menuliskan inspirasinya sampai sedetail-detailnya di dalam notebook kesayangannya.
Seperti halnya malam minggu ini, di dalam jadwal Inid tidak ada kata nge-date bareng cowoknya layaknya remaja-remaja lainnya dan cowoknya tetap mengabulkan permintaan ceweknya. Yuris? Cowok itu memang rada gila atau sudah benar-benar gila, masih belum bisa dipastikan. Cowok mana betah didua’in ceweknya, apalagi terang-terangan di depan mata kalau ceweknya lebih mencintai notebook dibanding kencan. Tapi, tanggapan Yuris tiap hari masih tetap sama “Nanti, Inid juga akan berubah. Aku tetap menunggunya.”
Inid tak menunjukkan tanda-tanda akan berubah atau setidaknya merubah sedikit kebiasaan buruknya untuk kekasih tercintanya yang rela menemani Inid setiap saat. Bisa dikatakan, dia lebih pantas disebut asisten ketimbang cowok Inid. Ya iyalah, setiap kali dia ke rumah Inid. Belum pernah Inid menyambutnya selayaknya cowoknya. Malah Inid juga pernah lupa kalau cowoknya itu Yuris. Anehnya Yuris masih tetap setia. Kalaupun keluar dengan Inid, itupun Yuris hanya mengantar dan menemani Inid mencari informasi yang sama sekali tidak mau diketahui olehnya. Memang membosankan, tetapi tak apa. Pikir Yuris, sekalian jalan-jalan alias kencan aneh dengan Inid yang lebih pantas disebut mengantarkan saja – lagi-lagi.
Kali ini kau pasti sudah yakin kalau cowok itu memang sudah gila, bahkan kau rasanya ingin cepat-cepat menelepon RSJ untuk memeriksa cowok itu, kalau perlu menginapkannya barang sebulan-dua bulan. Tidak hanya kau! Semua yang mengenal Inid dan mengetahui bahwa Inid sudah punya cowok, mereka dengan asyiknya menceramahi Inid dengan berbagai ancaman cinta, karena telah menelantarkan cowoknya yang kini sudah hampir sepopuler ketua OSIS, malah survey mengatakan banyak yang ingin menjadi ceweknya Yuris. Inid dengan lembut menyela, kejam siapa dengan para politikus? Kalau sudah begitu, yang menceramahi Inid semakin sebal. Mereka hanya kasihan dengan Yuris.
“Dora, ke mana kita akan pergi akhir minggu ini?” Tanya Yuris memandang notebook Inid.
Sudah biasa Yuris dengan jawaban Inid yang pasti belum berubah atau bahkan bisa saja tidak akan berubah.
“Tetap di sini.” Jawab Inid cuek dan kembali mengetik. Sudah di duga Yuris sebelumnya.
Tetapi, Yuris sudah mengerti dengan kebiasaan Inid. Jadi, dia tidak cukup kaget dengan segala sikap yang diambil Inid secara garis besar membosankan bagi para cowok.
Tiga bulan sudah berlalu sejak Inid dan Yuris jadian. Tetapi, di antara mereka belum pernah terjadi jalan-jalan berdua atau sekedar pergi berdua. Yuris sendiri belum pernah mengajak ceweknya ke pertemuan clubnya, padahal temen-temen club Yuris sudah menantikan siapa cewek baru Yuris. Setiap kali menanggapi, Yuris hanya memberi tampang senyum inconnectnya tanpa mau menjawab. Karena dia yakin mana mau Inid di ajak ke clubnya.
Suatu hari di taman sekolah Inid duduk membaca sebuah novel dari penulis yang dia kagumi. Dia sendiri ditemani snake yang sudah hampir habis. Saat itu semua siswa SMK Harapan sedang asyik-asyiknya istirahat. Tetapi, Inid malah menghabiskan waktu dengan membaca. Huh…membosankan sekali! Batin beberapa cewek yang lewat di dekat Inid. Bahkan yang duduk-duduk di taman mungil SMK Harapan hanya memandangi Inid sebelah mata. Beberapa cowok tak sedikit yang sering menganggap Inid cewek paling aneh seantero SMK Harapan. Belum pernah mereka menemukan pemuja buku yang sampai seperti Inid. Lihat saja di sebelah Inid ada beberapa buku pelajaran yang paling menyebalkan untuk dilihat, apalagi nongol menemani Inid di waktu istirahat. Waktu yang seharusnya digunakan untuk cipika-cipiki atau makan di kantin, kebebasan para siswa yang jomblo untuk mencari inceran mereka, kesempatan para siswa yang sudah tidak lagi jomblo untuk menemui sang pujaan hati.
Saat itu tidak bisa disangkal.
“Hello Dora!”
Inid langsung mendongakkan kepalanya sebentar menatap cowok yang sudah beralih duduk di sebelahnya. Yuris, kembali Inid menekuni novelnya. Yuris sedikit saja hanya memandangi ceweknya. Bagaimana bisa aku bisa jadi cowoknya, sangat setia lagi.Padahal masih banyak cewek-cewek lain yang bisa meluangkan waktu mereka untuknya. Tapi, tetap saja aku makin sayang sama cewek satu ini. Belum pernah aku mimpi seperti ini. Inid, cewek ini juga tidak mempunya lengkuk tubuh yang seksi. Wajahnya yang tanpa polesan sedikitpun tidak terlihat cantik. Tapi, bagiku dia seolah permaisuriku. Aku bener-bener enggak ngerti masih ada cewek langka seperti Inid.
“Dora, hentikan membacamu!” Seru Yuris tanpa sedikitpun ada nada memerintah.
Kembali Inid mendongakkan wajahnya dan melihat Yuris duduk tegang di sampingnya. Tetapi, tak sedikitpun Inid curiga. Dia hanya mengatakan kalau baru saja Yuris ulangan kimia dan hasilnya kurang memuaskan. Inid, aku mau ngomong penting sama kamu tau. Janga dicuekin dong!
“Oke, kamu tetap membaca tetapi aku akan menceritakan apa yang aku rasakan akhir-akhir ini…” Yuris berhenti lalu menghembuskan nafas,”kayaknya kamu sudah enggak sayang lagi denganku. Sekarang kamu lebih mementingkan masalah tulis-menulis dan membaca buku-buku. Memang aku sangat bangga, Nid. Tetapi bukan dengan cara seperti ini yang aku mau.” Kata Yuris berhasil mengeluarkan uneg-unegnya.
Sebenarnya Inid hanya mendengarkan dengan sambil lalu. Tetapi, akhirnya dia terpengarah juga lalu memandang Yuris dengan tajam. Setajam pisau yang pernah membuatnya terluka. Belum pernah dia dipandangi ceweknya seperti itu.
“Aku tidak mengerti arah pembicaraanmu. Apa kamu minta putus?” Tanya Inid menggerakkan sorat matanya lebih jauh menusuk Yuris.
Untuk pertama kalinya Inid memandang cowoknya dalam-dalam. Tak heran Yuris langsung terpengarah dengan pandangan dadakan itu. Tidak diduga, dia pikir Inid tetap akan cuek seperti biasanya kalau Yuris mengajaknya ngobrol. Paling tidak menanggapi permbicaraannya tanpa sedikitpun antusias.
“Putus? Aku tidak minta kita putus. Aku hanya___” Setelah berhasil menguasai dirinya, Yuris berhasil menjawab pertanyaan Inid.
“Hanya apa? Jujur saja, aku bisa menanggapinya kok. Aku akui kamu pasti sudah capek seperti ini terus-terusan.” Kata Inid kembali teringat dengan mantan-mantannya minta putus hanya gara-gara masalah Inid menelantarkan mereka.
“Ya kan Ris?” Desak Inid menutup novel yang semula membuatnya penasaran ingin segera menyelesaikannya dalam waktu singkat. Emosi Inid sudah benar-benar tidak bisa ditahan, entah kenapa dia ketakutan kalau kehilangan cowok ini.
Wajah Inid yang semula persis Dora, kini persis geraman kucing Tom yang marah karena dikerjain habis-habisan oleh Jerry, si tikus kecil yang hebat.
“Hanya___Nid, bukannya aku egois. Maafkan aku! Tetapi, aku ingin kamu menuruti satu permintaanku. Kamu mau kan?” Tanya Yuris ragu-ragu di dalam hatinya dia menambahkan. Nid, kamu tahu kan aku sudah menuruti segala permintaanm, tapi tak satupun untukku.
“Kupikir kamu minta putus seperti mereka. Selama ini aku benar-benar sayang dengan Ris. Hanya saja aku tidak tahu bagaimana cara memberikan kasih sayangku. Apalagi kamu tahu sendiri kan, aku masih ingin menggeluti bidangku di samping sebagai seoran pelajar.” Kata Inid panjang lebar, tidak seperti biasanya.
“Makasih, kamu juga punya perasaan yng sama.” Ucap Yuris tulus. Dia kali ini benar-benar tidak tega dengan ceweknya. Wajahnya pun terlihat polos. Feeling Yuris juga mengatakan kalau Inid tidak mau kehilangan dirinya. Yakinkah kau Yuris? Yeah…wajahnya terlihat sangat yakin sekali melebihi apapun.
“Sama-sama. Tapi, mau tidak kamu nemenin aku jalan-jalan sore ini?” Tanya Inid melupakan segala perasaan gundahnya yang hampir melingkupi seluruh ruang hatinya.
“Oke, aku jemput jam lima tepat.” Ucap Yuris meninggalkan Inid karena saat itu bel masuk sudah bunyi.
Inid tersenyum dari kejauhan. Dia sudah bertekad akan membagi waktu luangnya. Dia sudah berjanji akan mengurangi sedikit demi sedikit ke-ego’annya, karena dia sudah sadar kalau selama ini dia sudah egois. Benar kata teman-temannya.
“Mau mencari informasi ke mana?” Tanya Yuris begitu sampai di depan pintu rumah Inid. Dia benar-benar tepat waktu. Malah Inid yang sedikit molor.
Sekarangpun dia sudah tidak lagi membiarkan jam dindingnya tak terawatt. Malah sesering mungkin dia melihat waktu agar bisa belajar tepat waktu seperti Yuris.
“Tidak untuk sekarang dan seterusnya. Aku akan mencari refreshing karena manusia memang butuh refreshing dari pekerjaan yang merupakan hobi mereka sekalipun, mereka harus mencari hal menarik lainnya.” Kata Inid kembali berkoar-koar.
Yuris hanya bisa manggut-manggut setuju. Sebenarnya Yuris melongo sebentar kemudian hatinya girangnya minta ampun. Padahal dia tidak minta untuk seterusnya, hanya sekali saja. Dia tidak bakal bisa melihat perubahan ceweknyanya akan secepat ini. Ah, cewek itu emang susah ditebak perasaannya. Apalagi cewek kayak Inid.
“Oke, thanks my honey.” Ucap Yuris hampir memeluk Inid.
Tetapi, Inid menghindar untuk mengambil tas kecilnya yang ketinggalan di ruang tamu. Sekali itu Yuris mendengus kesal tak berhasli memeluk ceweknya. Tetapi dia sangat senang dengan ceweknya, meskipun tak bisa memeluknya. Yang penting baginya bisa jalan-jalan bareng ceweknya. Itu artinya dia sudah siap mengajak Inid jalan-jalan ke secretariat clubnya.
Baru kali ini Yuris melihat ceweknya memakai pakaian yang dianggapnya cantik untuk tubuh Inid. Terlihat pas, batin Yuris tersenyum. Dia memandang wajah Inid, tetap sama tidak ada yang dilebih-lebihkan. Wajah itu lebih cantik tanpa dinodai dengan berbagai macam bahan-bahan yang mengharuskan cewek-cewek memakainya agar terlihat lebih menarik. Padahal kecantikan itu kan tidak dilihat dari penampilan luar, tapi hatinya. Gini-gini Yuris bisa lho berlagak bijak.
Yuris malah bangga punya cewek yang masih berwajah alami. Malah, tak segan-segan Yuris sering mebangga-banggakan ceweknya yang hebat.
“Dora aku cuman minta satu dari kamu. Tetapi ternyata___” Belum sempat kalimat Yuris terangkai Inid sudah memotongnya dengan kalimat lain.
“Oh ya, aku lupa. Kamu minta apa? Aku akan turuti deh, tapi bukan yang macam-macam lho.” Serentak Inid menekan keningnya dengan keras.
Hah…jadi Inid belum tahu apa-apa. Hampir saja jeep milik Yuris terjungkir balik di jalan raya itu.
Yuris kembali tenang. Dia hanya gemes aja dengan ceweknya yang sedikit lemot untuk menerima informasinya. Emang Inid itu selalu lupa dengan segala hal bila dia sudah merasa senang dengan sesuatu yang membuatnya antusias untuk menjalaninya. Setengah terpaksa Yuris menjelaskan.
“Oh…maaf Ris. Selama ini aku emang egois. Tapi, aku sudah janji mengurangi sedikit-sedikit ke-ego’anku. Tapi, aku sudah menuruti permintaanmu kan?”
“Yup, kamu malah tidak menyadari kalau sebenernya permintaanku itu ngajak kamu jalan-jalan. Uh…jadi gemes tau!”
“Hehehe…tapi, kalau aku lupa dengan janjiku. Ingatkan ya!” Membuat Yuris semakin gemes saja dengan ceweknya itu. Bagaimana tidak?
Inid pun mulai menyadari kalau Yuris terlihat lebih cool dibanding di sekolah saat-saat memakai seragam. Lebih keren! Pikir Inid masih dengan kelogikaannya. Bukan perasaan. Ini nyata dan harus digaris bawahi.
“Cinta itu emang lebih indah kalau berwarna-warni seperti ini, Nid.” Ucap Yuris menanggapi pernyataan Inid bahwa dia merasa keliru dengan dunia senja yang perlahan-lahan bergantikan dengan dunia malam yang lebih indah dari dunia senja, tapi sekaligus malam mematikan.
“Wah…aku jadi punya inspirasi nih.” Ucap Inid melanjutkan.
“Apa inspirasi kamu?” Tanya Yuris penasaran.
“Aku jadi ingin menulis arti dan makna cinta. Setelah itu akan aku jadikan ENSIKLOPEDIA CINTA !” Pandangan mata Inid terarah pada satu bintang yang dianggapnya bisa mengerti apa pikirannya saat ini.
“Apa? Sejak kapan kamu jadi ahli ensiklopedia?”
Terlihat jelas wajah Yuris ketakutan, lebih takut karena Inid akan lebih parah menelantarkan dirinya. Membayangkannya saja sudah sulit, apalagi mengalaminya.
“Sejak kamu ajak ke sini.” Ucap Inid tanpa pura-pura tidak tahu perubahan wajah Yuris yang duduk disebelahnya.
Mereka saat ini duduk dipinggiran jalan raya yang padat lalu lintas.
“Kalau tahu apa yang akan terjadi, aku tadinya tidak akan mengajakmu ke sini.” Gumam Yuris menunduk.
Bayangan bahwa Yuris akan ada di penjara bawah tanah menyergapinya.
“Ris, kamu tahu enggak arti cinta?” Tanya Inid memandang Yuris.
“Aku, ehm bukan hanya aku. Setiap manusia di dunia ini sebenernya tidak akan pernah tahu makna dan arti cinta yang sebenarnya. Mereka hanya menjalaninya dengan cara mereka sendiri-sendiri.” Kata Yuris bijak.
“Makanya, andaikata aku menemukan semua tentang cinta. Aku akan menulisnya sebagai ensiklopedia cinta sepanjang-panjang uraiannya.”
“Jadi, kamu harus menulis terus agar cepat selesai?” Tanya Yuris kembali menyatakan kalah dalam perang cintanya kali ini.
Bagaimana mungkin, baru tadi di sekolah merasa puas dan senang. Malah sekarang kesenangannya telah pudar lagi jadi serpihan-serpihan yang tak tentu.
“Mungkin kalau bisa. Buku itu akan terbit dan namaku akan dikenal oleh banyak orang. Jadilah aku orang hebat.”
Inid menghela nafasnya. Lalu melanjutkan kalimatnya dengan semangat naik 180 derajat celcius.
“Semua remaja, kupikir tidak hanya mereka. Semua orang wajib mengetahuinya, kalau perlu membacanya sampai habis agar cerita cinta mereka bisa berjalan lancar.” Kata Inid menggebu-gebu.
Oh tidak…ceweknya rupanya sudah tidak normal. Aku rasanya sudah tidak sanggup melihat Inid selalu mengetik dan mengetik. Bagaimana kalau nanti tangan Inid yang semula kecil-kecil jadi besar-besar. Kasihan kan!
“Inid, kumohon buang inspirasimu.” Sahut Yuris setelah bisa menghentikan arah pembicaraan Inid yang semakin melantur.
“Hahaha, kamu takut ya? Aku tidak akan menulisnya. Menjalani saja seperti kita sudah tercatat dalam Ensiklopedia cinta.” Kata Inid tersenyum memandang Yuris yang masih saja menyimpan perasaan takut.
“Syukurlah. Kupikir tak seorangpun berani menulis arti cinta atau makna cinta yang sebenarnya, apalagi ensiklopedia cinta dalam pikiranmu. Meskipun aku tidak pernah tahu hal-perihal menulis, tapi aku tahu.”
“Akhir-akhir ini kalimatmu kok jadi bijak-bijak sih?” Tanya Inid memandang Yuris curiga.
“Hehehe…aku membaca beberapa artikelmu di dalam notebook beberapa hari yang lalu waktu kamu tidak ada.” Tampang menyebalkan milik Yuris kembali tersungging.
“Huh…kupikir kamu mau menggeluti juga, kan enak kita bisa sama-sama.” Pikiran Inid kembali melantur ke mana-mana. Kebiasaan yang paling dibenci Yuris, karena dia yang dijadikan umpannya.
“Jangan paksa aku!” Kata Yuris menengahi pikiran-pikiran Inid.
Beginilah rasanya mempunyai cewek yang mencintai tulis-menulis. Tak mengerikan, tetapi menakutkan. Kalau kau yang sama sekali tidak suka tulis-menulis, jangan sampe deh naksir cewek-cewek aliran seperti ini. Kecuali kau benar-benar bisa menjalaninya seperti Yuris yang selalu dijadikan umpan oleh ceweknya.
“Uhm…aku berani bertaruh. Dua abad lagi orang-orang di dunia ini akan benar-benar menulis ensiklopedia cinta.” Sahut Inid mengalihkan arah pembicaraan.
Yuris kembali menghembuskan nafas lega. Untunglah dia tidak jadi ikut keanggotaannya Inid.
“Tapi, kuharap kamu bisa menghadirinya untuk menyanggah terbitnya ensiklopedia cinta. Kan kamu udah belajar banyak berkata-kata bijak.” Kata Inid kembali terinspirasi.
Nih cewek, inspirasinya kenapa enggak habis-habis sih. Keluh Yuris dalam hati, apalagi sekarang sudah tidak masuk akal lagi.
“Oke, aku akan hadir bila Tuhan masih mengijinkan.” Ucap Yuris.
“Tuh kan bijak lagi.” Lagi-lagi Yuris kena getahnya.
“Apa yang akan kamu katakan di sana?” Tanya Inid kembali berseri-seri.
“Aku akan mengatakan yang tahu arti dan makna cinta hanya Tuhan yang mempunyai alam semesta ini.” Jawab Yuris sudah mulai terpengaruh kebiasaan Inid yang suka mengada-ada.
“Good!” Dukung Inid berseri-seri.
“Tapi, aku meragukan umurku.”
Yuris kembali menyanggah ketika ingat bahwa dia hanya dipermainkan Inid. Mana mungkin, tak masuk akal dua abad lagi dia masih bisa bertahan hidup. Sampe umur seabad saja belum tentu dikabulkan Tuhan, apalagi dua abad. Itu sih malah keajaiban Tuhan.
Sejak saat itu Inid tidak lagi egois dengan kegiatannya sendiri. Jadwalnya dari buku harian kini sudah ada yang digantinya, misalnya malam minggu yang biasanya hanya untuk tulis-menulis di dalam notebook kini diganti dengan nge-date dengan Yuris.
Yuris juga sudah mulai menyukai perubahan sikap Inid. Walaupun kadang-kadang Yuris benci apabila kilatan mata Inid mulai menyerangnya. Yuris selalu dijadikan Inid umpannya. Tetapi, Yuris tetap menikmatinya. Karena dia sangat menyayangi gadis itu lebih dari siapapun.
Kini keduanya semakin dikenal dikalangan teman-temannya sebagai pasangan yang paling bertahan. Mereka hanya menjawab dengan “Jalani ensiklopedia cintamu” gitu. Banyak yang tidak mengerti arti peribahasa yang diciptakan Inid dengan bantuan Yuris.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Duuuh, maf kata2x bnyk yg slh, abz nlisx tngh mlm - pas ngantuk2nya.
BalasHapusEinid "Shandy"
Bagus banget kok! Wah,...punya cowok nih ye,...Notebooknya lebih ganteng ya??
BalasHapus