Vivi, dia termasuk cewek kece’ di skulnya. Saat ini dia sudah memasuki usia tujuh belas tahun. Satu rahasia yang pernah di katakan Neneknya akan terungkap di saat usianya telah tujuh belas tahun. Dan saat inilah…
Dia sangat manis dengan rambutnya yang slalu di urai ke bawah. Rambutnya panjang dan sedikit bergelombang. Sebuah jepit kecil slalu menemani rambutnya.
Suatu hari, kedua matanya di tatap oleh siswa baru yang kabarnya menyukai Vivi. Tapi, Vivi saat itu juga seperti melihat bayangan bahwa cowok itu satu setengah jam lagi akan terjatuh dari anak tangga. Vivi terus mencoba menghilangkan bayang itu, tapi bayang itu terus-menerus menghantuinya. Sampe, Vivi sendiri melihat bayangan bahwa cowok itu terkapar dengan wajah di penuhi darah.
*
Anak-anak berhamburan keluar kelas begitu mendengar bel istirahat. Saat itu Vivi berjalan paling belakangan. Beberapa saat kemudian…
Hening! Tak ada yang bicara. Tatapan mereka seolah-olah tertuju ke bawah dan mengikuti suara sesuatu yang terjatuh berdebum-debum.
Saat itu Vivi melihat kejadian yang persis dengan yang tadi sempat membayanginya. Dia melihat dari atas dengan mulut ternganga lebar. Cowok itu terkapar dengan wajah dipenuhi darah.
“Luis!” Teriak salah seorang cowok lain dan menghampirinya.
Vivi bagai mematung dengan mulut ternganga. Dia masih tak percaya dengan kejadian yang dengan cepat berlangsung.
Saat itu Vivi bermain sendiri dengan dunianya dalam mimpi. Dia kaget! Dia berusaha berpikir positif bahwa tadi dia hanya kebetulan membayangkan sesuatu yang tak disangka-sangka. Setiap sesuatu yang terbayang, tak mungkin terjadi. Tapi, kenyataannya terbalik!
*
Suatu ketika, seorang cowok pemain basket melihat Vivi sedang nonton di pinggir lapangan. Dia sungguh terkesan dengan Vivi yang dari tadi menyemangatinya. Cowok itu terus menatap Vivi sambil tersenyum.
Saat itu pula, Vivi melihat sebuah bayangan bahwa cowok itu memasukkan bola ke dalam ring dengan baik. Tetapi, tiba-tiba ring itu roboh dan menindih tubuh cowok itu. Cowok itu berteriak kesakitan. Kedua matanya menatap dengan nyalang. Aaarrrrgghhhh…
Bayangan itu hilang. Vivi bagai tak percaya, dia berusaha tidak mempercayai bayangannya. Tetapi, benar. Lima menit kemudian cowok itu telah berhasil memasukkan bola ke dalam ring. Tetapi, tiba-tiba kejadian selanjutnya seperti apa yang dibayangkan Vivi. Oh No!!!
Vivi melihat dengan mata nyalang. Dia tak mengerti. Kenapa setiap bayangnya bisa menjadi kenyataan. Semua siswa berhamburan menolong cowok itu.
*
Vivi menyuruh teman sekelasnya, sekaligus sobatnya itu untuk menatap kedua matanya seperti melihat sesuatu yang membuatnya senang ato kalo perlu seperti melihat cowok yang di sukainya.
Beberapa lama Vivi sama sekali tidak melihat sebuah bayangan menakutkan di dalam kedua matanya. Berarti benar! Itu hanya kebetulan. Sahut Vivi dalam hati!
*
Satu minggu telah berlalu dengan ketenangan dan hari ini Vivi sedang menunggu angkotan menuju rumah sobatnya.
Seorang cowok yang saat itu sedang mengendarai Honda sedang menatapnya sambil tersenyum. Saat itu sedang lampu merah.
Vivi kembali melihat sebuah bayangan menakutkan yang akan terjadi pada diri cowok itu. Kejadian itu terjadi tiga menit lagi. Cowok itu menabrak tiang listrik dan dia terlempar hampir dua meter dan terseret hampir delapan kaki ke depan.
Tiga menit telah berlalu. Lampu hijau menyala. Saat itu pula, kejadian mengerikan terjadi di depan mata Vivi. Tubuh cowok itu benar-benar dipenuhi dengan darah. Seketika itu hening…para pengendara menatap dengan kekagetan dan sebagian lagi ngeri.
*
Dalam kamar tidurnya. Vivi berusaha mencerna setiap kejadian-kejadian yang sempat membayanginya sebelum kejadian-kejadian tersebut benar-benar terjadi.
Saat ini Vivi ingin bertanya pada Neneknya. Tetapi, Neneknya telah lama meninggal sebelum Vivi sempat di beritahu apa sebenarnya rahasia dalam Vivi.
Tetapi, Vivi masih ingat kata-kata terakhir Neneknya kalo dia harus berhati-hati jangan sampe orang lain celaka karnanya.
Kini Vivi ingin bercerita kepada orang lain. Tetapi, kedua orang tuanya tidak ada di dekatnya saat ini karna bisnis ke luar pulau dan dia sekarang tinggal bersama Om Ant.
*
Vivi berada di perpustakaan skul untuk mencari sebuah buku. Saat ada di depan rak buku, dia mrasa bahwa dirinya sedang dilihat oleh seseorang. Dia menoleh ke arah cowok di sampingnya. Cowok itu sedang memandang ke arahnya.
Saat itu kembali terlintas bayangan menakutkan. Cowok itu sedang menyeberangi jalan ketika pulang skul dan dari belokan jalan ada truk yang menuju ke arahnya dengan laju yang cepat. Oh…mungkin ini akan terjadi.
“Hallo…!” Sapa cowok itu dan menggugah Vivi dari bayangan buruknya.
“Hal…hallo…!” Balas Vivi masih belum sadar betul.
“Sedang cari buku ya?” Tanya cowok itu.
Vivi hanya mengangguk. Dia tak bisa berkata apa-apa dan langsung berlari ke luar dari ruangan. Dia berlari menuju kelasnya. Dia masih ingin merenungkan setiap kejadian-kejadian buruk yang slalu menimpa cowok yang memandang ke kedua matanya.
*
Saat pulang skul. Dia melihat cowok itu kembali menatapnya. Vivi tidak sadar dan langsung berjalan lagi dan menyebrangi jalan besar dengan hati-hati.
Tapi, dia tidak jadi menyebrang karna dia ingin menolong cowok itu agar kejadian mengerikan yang menimpa cowok itu tidak terjadi.
“Hai!” Sapa cowok itu sambil berjalan terus.
Vivi sadar, waktu tinggal lima menit lagi.
“Jangan menyebrang! Stop!” Teriak Vivi saat itu juga.
“Knapa?” Tanya cowok itu dan berhenti.
“Pokoknya tunggu lima menit lagi.” Kata Vivi dengan nafas tersengal-sengal karna ketakutan.
“Hah, untuk apa? Aku sudah ditunggu mereka.” Kata cowok itu dan menunjuk segerombolan cowok di seberang jalan.
“Tidak, jangan menyebrang dulu.” Kata Vivi berusaha menarik lengan cowok itu.
“Knapa? Aku sudah tidak punya waktu lagi. Sebentar lagi kami akan ketinggalan.” Tolak cowok itu dengan sedikit sebal.
“Jangan, kumohon. Kurang empat menit lagi!” Sahut Vivi sambil melihat jam tangannya.
“Buat apa? Buang-buang waktu saja!” Kata cowok itu semakin marah.
“Sebentar lagi ada truk lewat dengan kecepatan tinggi.” Jawab Vivi masih berusaha memegang lengan tangan kiri cowok itu.
“Hah! Bagaimana kamu bisa tau?” Tanya cowok itu dengan dengusan sebal.
“Ceritanya panjang.” Jawab Vivi masih memegang erat tangan cowok itu.
“Hei! Cepetan ke sini!” Teriak salah seorang cowok di seberang jalan.
Tiga menit telah berlalu. Cowok itu menatap Vivi dengan perasaan marah, tapi Vivi tak peduli. Yang penting kejadian itu tak kan terjadi. Empat menit telah berlalu.
Tangan cowok itu terlepas dari genggaman Vivi. Vivi terjatuh, kemudian Vivi berusaha berdiri. Akhirnya setelah sampe di pinggir jalan Vivi telah mencekal tangan cowok itu. Saat itu juga sebuah truk dengan kecepatan tinggi melewati mereka berdua.
Saat itu juga Vivi melepaskan tangan cowok itu dan terduduk karna lemas di tembok setinggi lutut. Nafasnya masih tersengal-sengal karna barusan berusaha mencegah cowok itu.
Cowok itu ikut terduduk dengan nafas memburu. Dia sadar dengan apa yang dikatakan cewek di sampingnya. Untungnya cewek itu telah menyelamatkan nyawanya. Kalo tidak, bisa gawat. Kali ini dia tidak lagi marah dengan cewek yang ada di sebelahnya.
“Makasih! Kamu telah menolongku.” Kata cowok itu.
Vivi seketika itu mengangkat wajahnya dan memandang sebentar ke arah cowok itu dan tersenyum tipis.
*
Dua hari telah berlalu dengan tenang. Kini Vivi telah akrab dengan cowok itu, yang ternyata namanya Iwan.
“Ternyata sudah banyak kejadian yang membuatmu mulai sadar rahasia yang kamu miliki.” Kata Iwan suatu hari.
“Yeah, kupikir ini pertama kali dan hanya kebetulan. Tetapi, malah terus-terusan.”
“Kamu sudah banyak menolongku. Bolehkah sekali ini aku menatapmu, aku ingin tau kejadian apa yang akan menimpaku.”
“Jangan! Jangan tatap kedua mataku.” Tolak Vivi saat itu juga.
Iwan hanya tersenyum tipis melihat wajah manis yang ada di sampingnya. Dia sadar, dia telah menyukai cewek di dekatnya lebih dari yang lainnya.
“Aku ingin kedua mataku tidak lagi mencelakai orang lain lagi. Tapi, bagaimana caranya?” Tanya Vivi hampir mengeluarkan air matanya.
Beberapa saat mereka tak saling bicara untuk memikirkan sesuatu yang bisa membuat kedua mata Vivi tak lagi mencelakai orang lain lagi.
“Jangan menangis, coba kamu pake kaca mata.” Jawab Iwan memecah kesunyian.
“Baiklah akan aku coba. Kalo gitu kamu mau mengantarku mampir sebentar ke toko kaca mata?” Ajak Vivi kembali menampakkan senyumnya.
“Oke, mumpung hari belum sore!”
*
Setelah dari gramedia dan membeli kaca mata. Mereka berdua sedang membeli es krim di sebuah restoran kecil.
Vivi mencoba kaca matanya. Dia semakin terlihat cantik dengan kaca matanya. Ujar Iwan dalam hatinya.
“Sekarang coba tatap aku.” Kata Iwan menyuruh.
Vivi mencoba melakukannya. Selama beberapa saat tak terjadi apa-apa. Tapi, ternyata sebuah bayangan mengerikan akan menimpa Iwan.
Leher Iwan akan terjepit di pintu keluar restoran lima menit lagi. Tidak mungkin! Teriak Vivi dalam hati.
“Tidak terjadi apa-apa kan? Yuk kita ke kasir lalu keluar.” Kata Iwan beranjak berdiri.
“Jangan! Dua menit lagi akan ada kejadian mengerikan menimpamu. Maafkan aku!”
“Benarkah?” Tanya Iwan ikut putus asa melihat wajah Vivi cemberut.
Vivi mengangguk lemah dan melepaskan kaca matanya. Dia sekarang benar-benar putus asa. Akhirnya Iwan tidak jadi berdiri dan menunggu slama sekitar dua menit.
*
“Vivi, Om punya titipan dari Nenekmu.” Kata Om pada malam hari saat Vivi sedang belajar di kamar tidurnya.
“Apa Om?” Tanya Vivi berhenti belajar.
Dia melihat sebuah kotak persegi dengan bungkus kado bergambar pita berwarna-warni. Dia membukanya secara perlahan.
Di dalamnya, di atas kapas berwarna pink tersimpan sebuah kalung dengan dihiasi sekumpulan permata indah kecil-kecil di dalam sebuah lingkaran sebesar uang logam. Di sebelahnya ada surat kecil.
“Kata Nenek. Aku di suruhnya memberikannya setelah dua bulan dari hari ultahmu. Om pun belum pernah melihat isinya.”
Vivi mengangguk-angguk campur bingung. Kalung itu sungguh indah. Dia membuka isi surat itu.
Nenek sayang kamu…
Setelah berbagai kejadian kamu alami dengan kedua matamu.
Kini saatnya kuberikan kalung ini. Kalung ini akan mencegah setiap kejadian yang telah ditunjukkan kedua matamu sebelum kejadian itu sendiri terjadi.
Jangan sampai hilang, karena suatu saat akan dapat digunakan oleh anak cucumu sayang.
Peluk-sayang
Nenek
Kalung indah itu di pake oleh Vivi saat itu juga. Ternyata benar kedua matanya slalu membuat orang lain yang menatapnya akan celaka, kecuali dia itu cewek.
*
Keesokan harinya. Vivi kembali bercerita kepada Iwan. Iwan tersenyum tipis dan kembali memberikan jasanya kepada Vivi.
Sudah hampir sepuluh menit mereka berdua saling memandang. Ternyata, tak ada kejadian apa pun. Dalam bayangan Vivi hanya terlihat wajah Iwan yang manis juga semakin cakap.
“Tidak terjadi apa-apa.” Jawab Vivi setelah yakin dengan semuanya saat itu.
“Syukurlah!”
“Aku masih mrasa bersalah dengan smua orang yang mat___!”
“Sssttt…jangan bilang gitu Vi. Yang penting kan sekarang kita udah nemuin solusinya!” Ucap Iwan menenangkan.
*
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar